beberapa hari yang lalu pas gw lg bosen bgt. gw googling terus ketemu cerita yang cukup menyentuh hati gw, cerita ini gw copy paste langsung dari http://mioariefiansyah.wordpress.com
begini ceritanya……….
” Maaf Mas Bintang, sepertinya hubungan ini tidak bisa dilanjutkan, Aku ingin kita putus ” kataku pada laki-laki yang selama empat tahun ini mengisi hari-hariku itu.
” Tapi kenapa Lan? Apa salah dan dosaku hingga kau tega memutuskan tali cinta kita ini “, jawab laki-laki itu dengan tatapan penuh keingintahuan.
” Aku tak bisa menjelaskannya, aku benar-benar tidak bisa…apa Mas bisa mengerti apa yang kurasakan?”, Meski sebenarnya aku ingin menjelaskan semuanya namun serasa ada yang menghalangi diri ini untuk berkata apa yang ada di dalam hati..
Sepi……sunyi…….
Deras hujan yang turun semakin menambah suasana kala itu menjadi semakin dingin. Aku tidak akan pernah melupakan tatapan matanya waktu itu.
Bintang Kejora namanya, seseorang yang mampu meluluhkan kebekuan yang ada di dalam hatiku. Seseorang yang selalu ada ketika aku membutuhkannya. Seseorang yang mengajarkan aku apa itu cinta walau tidak dengan kata-kata. Semenjak bertemu dengan dia hidupku menjadi penuh warna. Hari-hari yang aku lalui benar-benar terasa bernuansa cinta. Dimana-mana ada cinta…Di setiap gang rumahku yang sempit dan bau pun terdapat cinta, di daerah perkampungan kumuh yang aku huni itu terdapat sejuta cinta, di jalan, di tempat aku menimba ilmu, semuanya bertebaran cinta…cinta dan cinta…..
Namun, saat cinta itu sudah mendoktrinku aku untuk terus memujanya, di saat itulah aku harus memutuskannya……..
Ya, setelah empat tahun aku dan Mas Bintang menjalin kasih dan selama empat tahun itu pula tak pernah ada masalah yang membuat rasa cintaku berkurang padanya, di saat itulah aku harus memutuskannya…..Ya, tepat di akhir tahun 2006…
Ironis memang tapi itulah kenyataannya….
Saat itu dia sangat marah….dia sangat marah padaku. Entah apa yang dia katakan padaku, yang jelas dia sangat marah. Padahal dia berjuang untuk aku, bekerja keras untuk bisa menikahiku, pagi kuliah, sore hingga malam bekerja part time, dan dini hari belajar. Semua itu semata-mata dilakukannya agar dia cepat menikahi aku, seperti janjinya ketika kami masih SMA kala itu,
” Bulan, kamu mau khan nunggu aku…berjanjilah untuk selalu setia padaku meski aku harus melanjutkan studiku nun jauh di sana…Mas janji untuk menikahimu tahun 2008 nanti Insya Allah Mas akan berusaha sekuat tenaga agar bisa secepatnya menikahimu, Janji ya di sini setia meski Mas jauh, Mas sayang banget sama Bulan, dan Mas yakin Bulan adalah akan menjadi istri Mas nanti,” Aku masih ingat dia pernah mengatakan itu padaku sambil menggenggam jemariku, waktu itu aku baru kelas dua SMA sedangkan dia kelas tiga.
” Iya Mas, Bulan janji akan selalu setia kok, janji banget…… dan Bulan juga akan mempersiapkan diri untuk menjadi istri yang baik he he…Tapi Mas Bintang di sana juga jangan macem-macem ya, Katanya di Jakarta ceweknya cantik-cantik…ntar lupa lagi sama Bulan yang ada di Malang…Awas lho jangan macem-macem, ” Begitulah kataku waktu itu sambil menatap wajahnya yang menurutku benar-benar tampan. Aku memperhatikan wajahnya kala itu, dan aku merasa beruntung banget bisa menjadi cintanya. Sungguh tampan, wajah putih bersih, hidung mancung, mata, bibir, semuanya dan tidak hanya fisiknya saja namun dia juga pintar dan baik hati….. Aku bahagia sekali bersamanya.
Hingga dia benar-benar pergi…..namun dia pergi hanya untuk sementara, suatu saat nanti dia pasti akan kembali untuk menepati janjinya itu, yaitu menikahi aku….itulah yang aku percayai waktu itu.
Kami berhubungan jarak jauh. Namun, seperti kata pepatah jauhpun tak masalah asalkan rasa cinta itu masih membara dalam dada.. Mas Bintang tidak pernah absen untuk menelponku setiap hari, walau hanya sekedar ingin mendengarkan suaraku saja.
Aku juga masih ingat ketika aku baru saja masuk di sebuah Universitas ternama di kota Malang….Mas Bintang adalah orang paling bahagia selain orang tua dan teman-temanku. Ditambah lagi aku memutuskan untuk memakai jilbab waktu itu yang menambah kebahagiaan dia…
” Wah Bulan pasti cantik banget memakai jilbab…sayang Mas Bintang nggak bisa pulang, jadi panitia OSPEK soalnya, gimana donk..padahal pengen banget lihat ” katanya waktu itu dengan penuh sesal.
” Nggak apa-apa kok Mas Bintang, meski nggak ketemu tapi khan selalu di hati, itu yang penting…..”, balasku mencoba menghiburnya.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun……..
Aku baru sadar dan mengerti bahwa apa yang aku lakukan selama ini dengan Mas Bintang adalah sebuah kekeliruan besar. Sesuatu yang mungkin dianggap wajar tapi sebenarnya salah. Tidak ada toleransi walau hanya sedikit. Sebenarnya aku sudah mengetahuinya sejak semester I, ketika masih awal-awal menjadi Mahasiswa Baru… Aku baru paham dan mengerti hukum pacaran itu seperti apa.
Meski awalnya aku tidak menghiraukan, namun lama-lama akupun gerah. Aku merasa ada yang mengganjal di sudut hatiku yang paling dalam. Mengapa aku tidak bisa tenang ketika Mas Bintang datang ke rumah, tidak seperti dulu. Mengapa aku merasa banyak orang mengamatiku ketika aku jalan berdua dengannya. Dan begitu banyak sekali selentingan-selentingan yang membuat kupingku panas, bukan karena ucapan mereka namun karena aku tahu apa yang mereka ucapkan tentang aku itu benar.
” Eh tuh tuh lihat belum tentu khan orang yang berjilbab itu baik, buktinya…lihat tuh dia jalan sama cowok..siapa lagi kalau bukan pacarnya..kalau suaminya kayaknya nggak mungkin saudara apalagi”
” Eh ternyata orang yang jilbabab tuh belum tentu ya, buktinya kamu Lan berjilbab jalan terus tapi pacaran juga tetep lancar, aku kira dulu….” bla bla bla…..
Itulah yang aku dengar hampir setiap hari. Aku tahu aku yang salah. Meskipun banyak orang yang tenang-tenang aja, namun aku juga tidak bisa menyalahkan mereka jika mereka menyalahkan aku. Inilah dunia, praktek itu jauh lebih susah daripada teori.
Awalnya, aku merasa tidak mungkin bisa untuk memutuskan tali cintaku dengan Mas Bintang. Tidak mungkin. Ya, tentu saja karena aku begitu mencintainya. Bagiku dia adalah laki-laki pertama dan satu-satunya yang mendiami relung hatiku. Melihat ketulusan di wajahnya tidak mungkin kalau aku tiba-tiba saja aku memutuskannya tanpa alasan.
Hingga akhirnya aku beranikan diri dan kusiapkan hati untuk memutuskannya………
Sakit, perih, pedih, terluka, menjadi serpihan yang tidak ada bentuknya…..
Impian dan harapan semuanya hilang bersama dengan kehampaan di jiwa…….
Hari-hari yang dulu indah berganti dengan mimpi buruk yang siap menemani sepanjang hari….
Mas Bintang, tahukah kamu bahwa ketika aku memutuskanmu……duniaku serasa hancur…..tapi ini harus aku lakukan…..Jika memang kita jodoh, maka Allah akan mempersatukan kita dalam sebuah ikatan suci bernama pernikahan tahun 2008 nanti sesuai janjimu….Namun jika dirimu bukan jodohku aku berharap Mas mendapatkan yang lebih baik dari aku, karena aku sayang banget sama kamu Mas….Percayalah padaku..semua ini aku lakukan karena aku sangat mencintaimu….aku tidak mau Mas terjerumus karena aku, karena akulah yang membuatmu seperti ini. Dari dulu Mas sudah tahu khan pacaran itu bagaimana, tapi kekuatanmu itu hilang ketika bertemu denganku …Aku yang telah memalingkanmu Mas …maafkan aku…Jaga diri baik-baik…mudah-mudahan Mas sukses.
sms terakhirku buat Mas Bintang dan tidak ada balasan darinya….Ya aku bisa mengerti…Aku tidak mau menyakiti hatinya lagi. Ini memang yang terbaik buat aku dan dia. Meskipun terasa sakit…tapi ini memang yang terbaik…Aku harus yakin itu….Percayalah Mas, dirimu akan selalu di hatiku. Kamu adalah kenangan terindah yang pernah aku miliki….
Hari ini, tanggal 29 Juli tahun 2008…..Tepat Pukul 10.00 WIB nanti, aku akan menghadapi ujian skripsi. Ya, tinggal beberapa menit lagi, namun yang aku ingat bukanlah materi skripsi………………….
Mas Bintang….orang itu yang aku ingat dan aku lihat dalam bayanganku saat ini. Kenangan-kenanganku bersamanya terlihat jelas di dalam otakku barusan. Saat-saat indah bersamanya juga saat aku memutuskannya… Aku sedih Mas, hari ini kamu tidak bisa menemaniku, tapi aku harus yakin bahwa ini yang terbaik. Mungkin Mas Bintang sudah menikah setelah dua tahun kita berpisah….. Aku turut bahagia Mas. Entah kenapa aku jadi berimajinasi dengan pikiranku sendiri. Sudahlah, sekarang yang harus aku pikirkan adalah ujian skripsi bukan dia…
(Dua jam kemudian)
Alhamdulillah ujian skripsi sudah aku lewati dengan baik dan aku dinyatakan lulus dengan nilai yang bagus. Alhamdulillah Ya Allah… Sekarang satu masalah sudah terlewati. Namun, masih banyak ujian kehidupan yang lainnya yang masih harus aku hadapi……
Tiba-tiba saja……….
” Bulan….” seperti ada suara yang memanggilku ketika aku baru saja keluar dari ruang tempat ujian berlangsung…
Tidak mungkin dia, pikirku…tidak mungkin….aku hanya berkhayal…aku harus membuang jauh-jauh pikiranku ini…tidak mungkin dia…
Namun suara itu semakin lama semakin terasa dekat…..dan akhirnya aku beranikan diri untuk menoleh ke arah suara itu, toh itu cuma perasaanku saja, bukankah di sini memang rame banget….
Dan…Betapa terkejutnya aku ketika aku tahu bahwa yang memangilku tadi adalah……… Mas Bintang……..
aku tak bisa berkata-kata. Aku masih terpana melihatnya. Tidak jauh beda wajahnya, masih tetap tampan. Astagfirullah…..Ya Allah maafkanlah aku, dia bukan siapa-siapaku, aku tidak boleh terpukau ketampanannya, aku harus menundukkan pandangan….
Lama kami saling diam, tanpa saling bicara, dan tanpa saling melihat….kami sama-sama menunduk….terasa sepi meski di tengah keramaian…
Entah siapa yang menyuruh, tiba-tiba saja Mas Bintang bilang……….” Bulan, selamat ya Udah lulus dengan nilai yang terbaik….tapi bukan karena itu Mas datang ke sini, Mas…ingin melamarmu Bulan khan sudah lulus..Kita menikah tahun ini……. ” bla bla bla…
Entah Apa yang dia ucapkan barusan, tapi yang paling aku ingat adalah …me-ni-kah…..iya…dia menepati janjinya enam tahun yang lalu, meskipun dua tahun belakangan ini hubungan aku dan dia sudah putus….yakin sekali dia…yakin bahwa aku masih mencintainya…meskipun memang benar adanya……bahwa aku masih setia dan sayang padanya….
Aku hanya tersenyum tanpa bisa berkata-kata….
Ya Allah, hari ini lengkaplah sudah kebahagiaanku…sebagai seorang wanita…..Insya Allah aku siap Mas Bintang mengarungi samudra kehidupan ini bersamamu, meraih cita-cita bersama. Begitulah yang ingin aku ucapkan padanya namun lagi-lagi hanya sampai di tenggorokan saja….Ya Mungkin dia sudah tahu….Allah inikah hadiah untukku dari-Mu….Alhamdulillah Ya Allah Terimakasih…..
di copy dari
http://mioariefiansyah.wordpress.com
Descriptive statistics are typically distinguished from inferential statistics. With descriptive statistics you are simply describing what is or what the data shows. With inferential statistics, you are trying to reach conclusions that extend beyond the immediate data alone. For instance, we use inferential statistics to try to infer from the sample data what the population might think. Or, we use inferential statistics to make judgments of the probability that an observed difference between groups is a dependable one or one that might have happened by chance in this study. Thus, we use inferential statistics to make inferences from our data to more general conditions; we use descriptive statistics simply to describe what’s going on in our data.